HARUSKAH KITA MEMBENTAK?

Oleh: Joko Wahyudiono

 

Mendidik anak, bukanlah pekerjaan yang mudah. Meskipun bukan pekerjaan yang mudah, tapi sampai sekarang juga tidak ada sekolah formal yang khusus mengajarkan kuliah “mendidik anak”. Beberapa pegiat pendidikan anak dan lembaga yang peduli telah berusaha melakukan pelatihan-pelatihan yang melibatkan para praktisi maupun pakar pendidikan anak, walaupun masih jauh dari cukup.

 

Anak kita yang merupakan amanah dari Allah, tidak selamanya bertindak sesuai keinginan kita. Bahkan ada sebagian orangtua yang menganggapnya sebagai “anak nakal”. Haruskah kita membentak mereka? Banyak di antara orangtua yang menganggap bahwa dengan membentak maka anaknya menjadi baik dan penurut sehingga mengikuti arahan orangtuanya. Benarkah demikian? Bahkan ada beberapa orangtua yang merasa puas setelah membentak anaknya (na’udzubillahi min dzalik).

 

Seorang anak yang dibentak menjadi rendah diri dan tertekan. Tentu ini tidak baik untuk perkembangan mentalnya di masa depan. Anak yang sering dimarahi bisa menjadi trauma, tertutup dan tidak peduli. Bahkan ada penelitian yang membuktikan terjadinya kerusakan sel-sel otak pada bayi yang dibentak.

 

Orangtua tugasnya memberi tahu jika anak berbuat salah dan mencegah agar tidak mengulanginya. Bahasa yang yang lembut dan kata-kata yang sopan lebih mudah dipahami oleh anak. Yang penting anak-anak menjadi tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan setelah itu tidak mengulanginya lagi. Nah, begitulah salah satu cara menjaga amanah yaitu memuliakan anak yang telah Allah titipkan kepada kita. Semoga bermanfaat.